2.jpg
   

Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi

Foto oleh Dita Alangkara/CIFOR

Ditulis oleh: Ratna Widyaningsih

BOGOR, Indonesia (27 Februari 2013)_Penggunaan wood pellet (pelet kayu) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil untuk industri besar, kecil, dan rumah tangga menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan dengan minyak tanah dan gas. 

“Pelet kayu termasuk ramah lingkungan. Selain emisi CO2 yang dikeluarkan dari hasil pembakarannya rendah, juga berasal dari bahan baku terbarukan yang bersifat carbon neutral,” jelas Gustan Pari, peneliti utama pada Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), saat ditemui di Bogor, Selasa (26/2).

Pelet kayu dapat disebut sebagai carbon neutral karena dianggap tidak menambah emisi CO2 ke atmosfer. Semasa pertumbuhan, pohon ini telah menyerap CO2 dengan jumlah yang diserap dapat lebih besar daripada yang dilepaskan. “Bahkan bisa menjadi karbon negatif,” lanjut Gustan.

“Emisi CO2 dari pelet kayu sekitar sepuluh kali lebih rendah dibandingkan dengan batu bara dan bahan bakar minyak serta delapan kali lebih rendah daripada gas,” ungkap Ir. Subarudi, M.Wood, Sc., peneliti di Puslitbang Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak) di Bogor, Selasa (26/02), mengutip data yang disajikan oleh PT Solar Park Indonesia.

PT Solar Park Indonesia adalah industri yang telah menghasilkan pelet kayu skala komersial. Mereka bekerja sama dengan Perum Perhutani dalam hal penanaman kayu energi seperti kayu, kaliandra, kemladingan, dan gamal. Pelet kayu juga bisa dibuat dari tanaman energi lain seperti akasia auriculiformis, maesopsis, dan tanaman tertentu seperti pohon willow dan alder.  

Pelet kayu digunakan sebagai sumber energi untuk pemanas ruangan pada musim dingin dan energi penghasil listrik (carbon for electricity). Pelet kayu dapat juga digunakan sebagai sumber energi di rumah tangga untuk keperluan memasak.  Pelet kayu menghasilkan rasio panas yang relatif tinggi antara output dan input-nya (19:1 hingga 20:1) dan energi sekitar 4,7kWh/kg.

Penelitian dan pemanfaatan pelet kayu didorong oleh kebutuhan adanya energi alternatif biomassa pengganti minyak bumi yang semakin mendesak karena harga minyak mentah yang akan terus meningkat dan akan habis. Selain itu, adanya upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), juga membuat pelet kayu menjadi salah satu pilihan tepat bagi masyarakat dan industri baik kecil, menengah, maupun besar.

Keunggulan lain pelet kayu adalah mengoptimalkan pemanfaatan berupa limbah seperti serbuk kayu sehingga mempunyai nilai jual yang lebih tinggi, yang biasanya dibuang begitu saja. Pelet kayu juga memberi nilai tambah pada proses pengolahan kayu serta meningkatkan  profitabilitas usaha kecil.

Pelet kayu berbentuk silindris dengan diameter 6-10 mm dan panjang 1-3 cm dan memiliki kepadatan rata-rata 650 kg/m3 atau 1,5 m3/ton. Pelet kayu dihasilkan dari berbagai bahan biomassa, terutama limbah serbuk gergaji dari pabrik penggergajian kayu dan serbuk limbah veneer dari pabrik kayu lapis atau palet daur ulang.

“Prosesnya sangat sederhana, bahan baku dikeringkan sampai kadar air maksimal 10% selanjutnya dipres dengan tekanan tinggi dan dipanaskan pada suhu sekitar 120-1800C, untuk proses kering. Sedangkan untuk proses basah bisa menggunakan bahan baku dengan kadar air tinggi, ditambah tepung kanji dan air kemudian dipres dengan tekanan tinggi tanpa pemanasan. Kedua sistem ini dilakukan secara kontinu,”  jelas Gustan lebih lanjut.

Nilai tambah

Berdasarkan data hasil penelitian pada Jurnal Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol.9 No.4 Desember tahun 2012, penggunaan pelet kayu sebagai bahan bakar dapat meningkatkan keuntungan usaha. Dalam jurnal tersebut, Dra. Setiasih Irawanti, M.S. dkk , menyatakan nilai tambah, keuntungan dan margin yang dihasilkan adalah paling tinggi ketika menggunakan bahan bakar sebetan dan pelet kayu, sebaliknya paling rendah ketika menggunakan gas.

Demikian pula kontribusi biaya input bahan bakar lebih rendah menggunakan sebetan dan pelet kayu, sebaliknya tertinggi bila menggunakan gas. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian nilai tambah pengolahan tahu di Kabupaten Banyumas dan Cianjur. Pada uji coba pengolahan tahu goreng menggunakan pelet kayu diperoleh nilai tambah pengolahan sebesar Rp 11.459 per kg kedelai, keuntungan sebesar Rp 8.309 per kg kedelai, dengan sumbangan input pelet kayu 13,5%. Sementara untuk penggunaan gas diperoleh nilai tambah Rp 8.160 per kg, keuntungan Rp 6.560 per kg, dan sumbangan input bahan bakar gas 17,4 %.

“Penggunaan bahan bakar gas secara teknis  dan ekonomis menarik untuk disubstitusi dengan bahan bakar biomassa, baik menggunakan sebetan atau pelet kayu. Memang pelet kayu adalah salah satu jenis bahan bakar biomassa yang belum dikenal oleh masyarakat atau bahkan belum beredar di pasardalam negeri sehingga masih perlu disosialisasikan,’’ ujar Setiasih.   (RW/FORDA)***

 
CIFOR/Kate Evans Hutan dan pohon menopang pertanian untuk produksi pangan dalam ruang dan waktu. Sebagian besar sistem produksi pangan skala...
(Bogor, 9 April 2014)_Ketika rakyat Indonesia mendatangi tempat pemungutan suara pekan ini, dan sekali lagi beberapa bulan nanti, mereka tengah membuat...
Hutan Amazon. Neil Palmer/CIFOR BOGOR, Indonesia — Tindakan harus dilakukan untuk memperjelas kepemilikan lahan di negara berkembang...
(Bogor, 24 Maret 2014)_Pembuatan sumur resapan dapat menjadi salah satu teknologi dalam menanggulangi banjir di Jakarta yang merupakan wilayah Daerah...
Invasif species Acacia by Dr. Titiek Setyawati (Puskonser) (Bogor, 28 Maret 2014)_ Perubahan iklim berpengaruh langsung dan tidak langsung pada...
Foto: Puspijak Bogor (3 Maret 2014) _Teknologi sumur resapan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menanggulangi banjir di Daerah...
“Seratus tahun penelitian kehutanan bukanlah waktu yang singkat. Dalam masa tersebut, peneliti sektor kehutanan (Indonesia) menghadapi beragam...
JAKARTA, Indonesia — Kebakaran lahan gambut di timur Sumatera, Indonesia pekan terakhir menimbulkan asap tebal di wilayah itu, membuat sekolah tutup,...
Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity...
BOGOR, Indonesia (12 Februari 2014) _ Kelompok Kerja Terbuka PBB mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) akan menggelar pertemuan akhir pada...
Studi baru ini membantu pemahaman dinamika tegakan tua-pertumbuhan pohon dan pohon-pohon besar di tegakan hutan, ujar Louis Verchot, direktur hutan dan...
BOGOR, Indonesia (3 Februari 2014) – Kecenderungan pada anak-anak yang tinggal di wilayah Afrika dengan tutupan pohon rapat makanan bergizi yang lebih...
Hutan di Nusa Tenggara Timur memainkan peranan penting bagi penghidupan. Peran apa yang akan dimainkan hutan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?...
Seorang anak laki-laki mengumpulkan kayu bakar di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pentingnya hutan untuk energi dan penghidupan membuat hutan penting...
Penyusunan rencana aksi implementasi REDD+, dari hasil simulasi di KPHL Batulanteh, KPHL Sijunjung, dan KPHP Wae Sapalewa bergantung dengan kondisi...
Memasukan standar dan perlindungan sensitif gender dalam rangka mengembangkan strategi transformatif-gender atau program REDD+ dapat mengubah...
“Jika kita menempatkan bentang alam sebagai bagian utama aktivitas, maka kita bisa mengintegrasikan manfaat yang membentuk bentang alam dan menjaga...
“Kita harus berpikir dan memantau lebih luas daripada sekedar hutan bagi REDD+,” ungkap Martin Herold, associate scientist pada Center for...
Tidak mungkin membicarakan tentang hutan di Acre, Brasil tanpa menyinggung seorang pahlawan asal kawasan tersebut: seorang penyadap karet, pemimpin...
BOGOR, Indonesia (19 Desember 2013) – Di tempat lahirnya kopi Arabika –Kafa Biosphere Reserve Etiopia– jagawana menggunakan Facebook untuk memantau...

Situs web REDD-Indonesia dikelola oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) Kementerian Kehutanan Indonesia, dengan bantuan dari berbagai organisasi.
Hasil riset, proyek percontohan, artikel, analisa dan materi lain yang ditampilkan di sini merupakan pendapat kontributor dan tidak selalu mencerminkan pendapat resmi pengelola.