1.jpg

Manajemen Hutan Lestari (SFM), Social Forestry dan REDD+

Komunitas masyarakat hutan di desa Pelaik, Danau Sentarum, Kalimantan Barat - Indonesia @CIFOR/Ryan Woo

REDD+ dapat menjadi salah satu usaha untuk mendorong isu pengelolaan hutan lestari atau lebih dikenal dengan sustainable forest management, melalui pelaksanaan social forestry di masyarakat. Keinginan ini muncul pada saat selama berlangsungnya konferensi dua hari jejaring social forestry ASEAN atau ASEAN social forestry network di Brunei Darussalam, 21-22 Juni lalu.

Menurut Gladi Hardiyanto, community forest officer dari Lembaga Ekolabel Indonesia, “Konsep REDD+ saat ini harusnya mendahulukan SFM dalam pelaksanaan kegiatan. Jangan terbalik. SFM harusnya adalah payung dari REDD+.” Manajemen hutan lestari merupakan konsep pengelolaan hutan lestari yang menjalankan fungsi ekologis dan fungsi ekonomis hutan dengan pelibatan masyarakat didalamnya. Saat ini SFM sukses dalam pelaksanaanya di bidang bisnis, yakni sebagai usaha untuk menunjukkan pelaksanaan bisnis yang sesuai kaidah lestari seperti model reduced impact logging (pembalakan berdampak rendah mengurangi dampak penebangan hutan) di perusahaan HPH. Akibatnya, konsep SFM bagi masyarakat hutan belum terkenal dan masih harus terus berjuang untuk membuktikan keberhasilan konsep ini.

Bernadus Steni dari HUMA menyatakan bahwa SFM penting karena adanya perhatian akan unsur hak-hak masyarakat di dalam konsepnya. “Indonesia sudah cukup responsif dalam menempatkan social forestry. Menteri kehutanan pernah berkata bahwa konsep REDD bukanlah ijin baru di Kemenhut, hal ini berarti adanya sikap pemerintah untuk mendukung manfaat REDD bagi masyarakat melalui perluasan ijin SF antara lain lewat ijin pengelolaan hutan oleh masyarakat seperti hutan kemasyarakatan (HKM), hutan desa, dan lain-lain meskipun di sisi lain pemerintah juga kepayahan dalam soal land tenure bagi masyarakat.”

Bagi Indonesia, hakekat pelaksanaan REDD+ sebenarnya sudah dilaksanakan di dalam pengelolaan SFM yang lama melekat dalam pengelolaan hutan Indonesia sejak tahun 1990.

Terkait dengan social forestry, Dr. Moira Moeliono, peneliti senior asosiasi dari CIFOR menyatakan, “Social forestry dapat merupakan salah satu opsi untuk mendukung keberhasilan REDD+.” Hal ini dapat berarti, social forestry sebagai  jembatan bagi praktik SFM menuju keberhasilan REDD+. Dapat dianalogikan, social forestry adalah gagang payung tempat dimana pegas penggerak payung berada, REDD+ adalah gagang dan jari jari payung, SFM adalah lembaran penutup payung yang menjadikan bentuk payung menjadi sempurna.

Hakikat REDD+

REDD+ sepatutnya dilihat bukan hanya sekedar ‘karbon.’ Menurut Steni, “Bila tidak diarahkan, kebanyakan orang akan berpikir mengenai perdagangan, keuntungan dan hasil yang akan diperoleh dari REDD+.”  Menurut Dr. Moira, “Masyarakat masih jauh dari pemahaman REDD+ yang sebenarnya. Mengerti apa itu karbon saja susah. Jadi bila diterangkan dengan hal-hal yang sudah ada di konsep tradisional mereka, hal itu dapat membantu ” ujarnya.

Pernyataan diatas dapat menjadi alasan bahwa sudah sepatutnya pengertian REDD+ didudukkan kepada hakikat dasar dan diterangkan secara sederhana. REDD+ sepatutnya merupakan elemen untuk pengelolaan hutan lestari, yang mampu mencegah kerusakan hutan secara intensif dan dapat membantu mengurangi emisi.

Dalam pelaksanaan REDD+, banyak pihak mensyarakatkan bahwa REDD+ tidak berbenturan dengan pembangunan kehutanan serta menghormati hak indigenous people dan masyarakat lokal. Sehingga patut mendahulukan pelaksanaan konsep manajemen hutan lestari yang mengelola fungsi ekologis dan ekonomis hutan di masyarakat, bukan terbalik dengan euforia REDD+ saat ini yang justru mengecilkan peranan dari SFM.

 
 

Artikel Terkait

CIFOR/Kate Evans Hutan dan pohon menopang pertanian untuk produksi pangan dalam ruang dan waktu. Sebagian besar sistem produksi pangan skala...
(Bogor, 9 April 2014)_Ketika rakyat Indonesia mendatangi tempat pemungutan suara pekan ini, dan sekali lagi beberapa bulan nanti, mereka tengah membuat...
Hutan Amazon. Neil Palmer/CIFOR BOGOR, Indonesia — Tindakan harus dilakukan untuk memperjelas kepemilikan lahan di negara berkembang...
(Bogor, 24 Maret 2014)_Pembuatan sumur resapan dapat menjadi salah satu teknologi dalam menanggulangi banjir di Jakarta yang merupakan wilayah Daerah...
Invasif species Acacia by Dr. Titiek Setyawati (Puskonser) (Bogor, 28 Maret 2014)_ Perubahan iklim berpengaruh langsung dan tidak langsung pada...
Foto: Puspijak Bogor (3 Maret 2014) _Teknologi sumur resapan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menanggulangi banjir di Daerah...
“Seratus tahun penelitian kehutanan bukanlah waktu yang singkat. Dalam masa tersebut, peneliti sektor kehutanan (Indonesia) menghadapi beragam...
JAKARTA, Indonesia — Kebakaran lahan gambut di timur Sumatera, Indonesia pekan terakhir menimbulkan asap tebal di wilayah itu, membuat sekolah tutup,...
Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity...
BOGOR, Indonesia (12 Februari 2014) _ Kelompok Kerja Terbuka PBB mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) akan menggelar pertemuan akhir pada...
Studi baru ini membantu pemahaman dinamika tegakan tua-pertumbuhan pohon dan pohon-pohon besar di tegakan hutan, ujar Louis Verchot, direktur hutan dan...
BOGOR, Indonesia (3 Februari 2014) – Kecenderungan pada anak-anak yang tinggal di wilayah Afrika dengan tutupan pohon rapat makanan bergizi yang lebih...
Hutan di Nusa Tenggara Timur memainkan peranan penting bagi penghidupan. Peran apa yang akan dimainkan hutan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?...
Seorang anak laki-laki mengumpulkan kayu bakar di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pentingnya hutan untuk energi dan penghidupan membuat hutan penting...
Penyusunan rencana aksi implementasi REDD+, dari hasil simulasi di KPHL Batulanteh, KPHL Sijunjung, dan KPHP Wae Sapalewa bergantung dengan kondisi...
Memasukan standar dan perlindungan sensitif gender dalam rangka mengembangkan strategi transformatif-gender atau program REDD+ dapat mengubah...
“Jika kita menempatkan bentang alam sebagai bagian utama aktivitas, maka kita bisa mengintegrasikan manfaat yang membentuk bentang alam dan menjaga...
“Kita harus berpikir dan memantau lebih luas daripada sekedar hutan bagi REDD+,” ungkap Martin Herold, associate scientist pada Center for...
Tidak mungkin membicarakan tentang hutan di Acre, Brasil tanpa menyinggung seorang pahlawan asal kawasan tersebut: seorang penyadap karet, pemimpin...
BOGOR, Indonesia (19 Desember 2013) – Di tempat lahirnya kopi Arabika –Kafa Biosphere Reserve Etiopia– jagawana menggunakan Facebook untuk memantau...

Situs web REDD-Indonesia dikelola oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) Kementerian Kehutanan Indonesia, dengan bantuan dari berbagai organisasi.
Hasil riset, proyek percontohan, artikel, analisa dan materi lain yang ditampilkan di sini merupakan pendapat kontributor dan tidak selalu mencerminkan pendapat resmi pengelola.